Ini Alasan PLN Lakukan Pemadaman Listrik Bergilir di Wilayah Sulawesi

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulselrabar Moch Andy Adchaminoerdin (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait permasalahan pemadaman bergilir di ruang Komisi D DPRD Sulawesi Selatan, Makassar, Kamis General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulselrabar Moch Andy Adchaminoerdin (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait permasalahan pemadaman bergilir di ruang Komisi D DPRD Sulawesi Selatan, Makassar, Kamis

Makassar: Pemadaman listrik bergilir berlangsung di sejumlah wilayah sulawesi selama dua bulan terakhir. General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi Wilayah Sulawesi Selatan Tenggara dan Barat (Sulselrabar) Moch Andy Adchaminoerdin buka-bukaan alasan kebijakan ini harus diambil.

Ia menjelaskan daya tampung pasok yang berkurang, sebab ada pemain kordit besar yang dikelola oleh PLN, baik itu milik PLN sendiri maupun milik pembangkit swasta atau Mobile Power Plant (MPP) yang tidak bisa berjalan maksimal. MPP yang paling besar, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso Energy milik PT Kalla, hanya dapat mensuplai 200  Megawatt (MW) walau memiliki kapasitas 515 MW. Alasannya, air yang ditampung akan habis jika dioperasikan maksimal.

"Bisa terjadi blackout (pemadaman total), ini lebih parah. Sehingga yang dilakukan PLN untuk meningkatkan manajemen adalah pembuat peraturan (pemadaman bergilir), tuturnya menjelaskan” kata Andy dilansir dari Medcom.id, Minggu, 3 Desember 2023. 

PLN sudah berupaya menormalisasi pembangkit yang ada serta menambah pembangkit yang sifatnya cepat memasok daya. Sembari menunggu proyek di bawah PLN termasuk RBT dapat masuk setelah kondisi normal. 

"Jadi kita lagi melakukan relokasi-relokasi mesin masuk ke Sulsel. Ini nanti pasokan akan masuk di Desember sebesar 50 Megawatt. Harapannya, di situ sudah mulai pulihlah begitu. Namun Kami memohon doa restunya, kalau hujan turun deras di daerah Poso, di sana karena debit air di sana bisa memenuhi waduk, secepat mungkin bisa normal," harapnya. 

Andi mengemukakan, kendalanya suplai listrik paling dominan berada di PLTA Poso Energy dengan kekuatan sampai 515 MW yang distribusi listriknya sampai di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kemudian daerah Palu, Poso, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan juga didistribusikan. 

"Jadi, pada saat berputar, itu bisa produksi (listrik) tapi ini tidak bisa berputar. Kalau Pembangkit di bendungan Bili-bili, sebenarnya kapasitasnya 20 MW. Karena kekeringan tidak jalan. Kabar baiknya, sudah bisa masuk operasi, sudah mulai ada airnya, tapi baru empat MW yang bisa masuk. Sampai akhir Desember nanti 80 MW kita bisa masuk, minimal bisa mengurangi pemadaman," ujarnya. 

Sebagai kompensasi pemadaman bergilir, konsumen mendapat tarif adjustment 35 persen dari rekening minimum dan kalau non-tarif adjustment sebesar 20 persen dari rekening minimum. Kompensasi tersebut dibayarkan di Oktober 2023 sebesar Rp39 miliar lebih dan masih dihitung untuk bulan berjalan November



(SUR)