Protes Diplomatik Harus Dilayangkan Kepada Jerman

Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana. Foto: Medcom.id/Fachrie Audhia Hafiez Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana. Foto: Medcom.id/Fachrie Audhia Hafiez

Apakareba: Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengatakan protes diplomatik harus diberikan kepada Jerman. Hal ini perlu dilakukan jika sudah terbukti benar bahwa warga negara Jerman yang menyambangi markas FPI merupakan seorang intel.

“Jangan sampai pemerintah kita dianggap lemah di mata publik. Oleh karena itu penting juga kalau misalnya protes diplomatik kita sampaikan (ke Jerman),” kata Hikmahanto dalam diskusi virtual Crosscheck dengan tajuk “Teka-teki Telik Sandi di Markas FPI“ yang disiarkan melalui akun YouTube Medcom.id pada Minggu, 27 Desember 2020.

Sebenarnya merupakan hal yang wajar bagi setiap negara untuk mengirimkan mata-mata ke negara lain. Tetapi apabila tindakan spionase ketahuan, maka pemerintah harus melayangkan protes diplomatik kepada Jerman.

“Harusnya intelijen itu (pergerakannya) senyap, tidak boleh ketahuan. Saya tadi katakan intelijen Melayu, intelijen tapi bawa pistol. Nah, ini intelijen (Jerman) pakai mobil plat CD (plat mobil korps diplomatik), bagaimana ceritanya,” paparnya.

Pada 2013, terungkap praktik penyadapan oleh badan intelijen Australia terhadap telepon seluler sejumlah pejabat tinggi di Indoneisa, termasuk miliki Susilo Bambang Yudhoyono yang kala itu menjabat sebagai presiden. Ketika itu, SBY langsung marah dan membekukan sementara berbagai kerja sama antara Indonesia dengan Australia.

Beberapa waktu lalu, beredar foto yang sempat viral di media sosial. Pada foto tersebut, tampak sesosok orang yang diduga sebagai perwakilan Kedubes Jerman memasuki markas FPI.

Sekretaris Umum FPI, Munarman, membenarkan informasi tersebut. Dia mengklaim diplomat Jerman itu menyatakan belasungkawa atas tewasnya enam laskar FPI.

Kedutaan Besar Jerman di Jakarta pun menegaskan bahwa kedatangan pegawainya tidak mengartikan bahwa mereka memberikan dukungan kepada FPI. Melainkan, pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memastikan situasi keamanan di Indonesia terkait aksi 1812 yang diselenggarakan pada Jumat, 18 Desember 2020.

Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan mengungkap bahwa orang yang ada di foto tersebut terdaftar sebagai pegawai di badan intelijen Jerman, yakni Bundesnachrichtendienst (BND). Setelah penelurusan, diketahui orang itu berjenis kelamin perempuan yang bernama Suzanne Hole.



(SYI)

Berita Lainnya