Hanya Berbeda Rp300, Petani Maros Pilih Jual GKP ke Tengkulak Ketimbang ke Bulog

Ilustrasi. (Foto: MI/Immanuel Antonius) Ilustrasi. (Foto: MI/Immanuel Antonius)

Apakareba: Jusuf, seorang petani di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, mengungkapkan sejumlah petani di kabupaten tersebut lebih memilih menjual hasil panennya ke tengkulak ketimbang ke Bulog. Padahal, perbedaan harga jual gabah kering panen (GKP)-nya hanya Rp300. 

Walaupun perbedaan harga dari tengkulak dan harga pembelian pemerintah (HPP) tidak jauh berbeda. Jusuf menyebutkan setidaknya hal itu bisa membantu petani. Sebab, para petani kekurangan pupuk sejak pandemi covid-19 yang akhirnya membuat hasil panen mereka anjlok. 

"Kalau jual di tengkulak bisa antara Rp4.400 hingga Rp4.500 per kilogram, karena harga sudah turun dan sudah panen raya. Kalau dijual ke Bulog, (harga) GKP hanya Rp4.200 per kilogram. Sedangkan gabah kering giling (GKH) Rp4.250," kata Jusuf, Senin, 22 Maret 2021, seperti dilansir dari Mediaindonesia.com.

Jusuf membeberkan jatah pupuk untuk para petani berkurang selama pandemi covid-19, khususnya pupuk bersubsidi. Sementara, apabila mereka menggunakan pupuk yang nonsubsidi, harganya lebih mahal tiga kali lipat. 

"Jadi, kita memilih mengurangi pupuk dan memberikan pupuk seadanya. Sehingga banyak bulir yang hampa," jelasnya.

Terlebih lagi, terdapat pemberlakuan kartu tani sejak pandemi covid-19. Jadi, hanya pemegang kartu tanilah yang bisa membeli pupuk bersubsidi. Kendala lainnya adalah satu hektare lahan hanya dijatah enam zak pupuk bersubsidi. Padahal, para petani membutuhkan 14 zak untuk satu hektare lahan.

"Jadi, kita lebih banyak menggunakan urea karena agak murah," tambah Jusuf.

Kondisi serupa juga dialami oleh petani di Kabupaten Soppeng, Sulsel. Petani di Kecamatan Lalabbata La Nase mengaku memilih menjual GKP ke tengkulak, karena menawarkan harga yang lebih mahal ketimbang Bulog. (Lina Herlina)



(SYI)

Berita Lainnya