Siapa Sangka, Ternyata Limbah Masker Bisa Diolah Jadi Produk Gasoline

Limbah Medis/Dok Lampost.co Limbah Medis/Dok Lampost.co

Apakareba: Pencemaran lingkungan akibat sampah medis kembali mencuat selama pandemi covid-19. Bagaimana tidak? Berbagai amunisi, seperti masker, alat pelindung diri (APD), sarung tangan, hingga face shield, sudah menjadi kebutuhan rutin yang harus dipersiapkan untuk mencegah penyebaran virus corona lebih meluas. 

Hebatnya, kelompok mahasiswa Politeknik Energi dan Mineral Akamigas (PEM Akamigas) berinovasi untuk mengubah limbah masker menjadi produk gasoline lho. Bahkan, berkat inovasinya tersebut, mereka berhasil meraih medali emas dalam ajang The 24th Moscow International Salon of Invention and Innovation Technologies ‘Archimedes’. Ajang internasional ini dilaksanakan di Moscow , Rusia, pada 23 sampai 26 Maret 2021.

Enam orang mahasiswa tingkat tiga Program Studi Teknik Pengolahan Minyak dan Gas itu berhasil menyisihkan 600 innovative project dari 18 negara peserta lomba lainnya. Di bawah bimbingan dosen PEM Akamigas, Zami Furqon, tim tersebut mengangkat materi ‘ProstyGas (Polypropylene-Styrene Gasoline): Conversion Disposable Mask and Styrofoam Waste Become Gasoline as Alternative Fuel’. Mereka mempresentasikan materi itu secara dari daring.

"Jadi, untuk lombanya sendiri dalam bentuk presentasi (online). Kita mengirimkan video dan dinilai oleh panitia lomba. Pemerintah Rusia melarang warga asing untuk masuk ke negaranya," kata Kartika Eka Sari Dewi, mewakili timnya di Kampus PEM Akamigas Cepu, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, ia menceritakan proses inovasi yang dilakukan timnya dalam mengolah limbah masker menjadi poduk gasoline. "Kita mendaftar pada Januari 2021. Selama kurang lebih dua bulan, kami melakukan uji coba metode pengolahan limbah masker berbahan polipropilena dan limbah styrofoam menjadi produk gasoline," jelas Eka, sapaan akrabnya.

Terakhir, Eka mengucapkan rasa syukurnya karena telah berhasil mendapatkan medali emas. Ia menyebutkan kerja keras yang selama ini dilakukan oleh timnya ternyata dapat membuahkan hasil.

“Yang jelas awalnya nggak nyangka banget bisa dapat gold medal dengan saingannya yang dari 18 negara,” tutup Eka.
 



(SYI)

Berita Lainnya