Petani Kakao Sulsel Minta Ketua KPK Telisik Tata Kelola Pupuk Subsidi

Sejumlah petani kakao di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, meminta Ketua KPK Firli Bahuri untuk menelisik potensi penyelewengan Sejumlah petani kakao di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, meminta Ketua KPK Firli Bahuri untuk menelisik potensi penyelewengan

Sejumlah petani kakao di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, meminta Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri untuk menelisik potensi penyelewengan tata kelola pupuk bersubsidi. Hal itu dianggap penting di tengah fenomena langkanya pupuk subsidi yang dapat mengancam produksi pangan petani.

“Hanya beberapa yang dapat (pupuk subsidi). Terus ada salah sasaran juga. Yang seharusnya bisa dapat malah tidak dapat,” ujar Ketua Komunitas Petani Kakao Luwu Timur, Ahmad Rizal, Rabu, 2 November 2022, saat unjuk aspirasi di Kecamatan Wotu, dikutip dalam laman Media Indonesia, pada Kamis, 3 November 2022. 

Pihaknya khawatir kelangkaan tersebut nantinya membuat kualitas produksi menurun, sehingga harga jual menjadi jeblok. Sementara, Rizal merasa bahwa membeli pupuk nonsubsidi dapat memberatkan petani mengingat harganya sangat mahal. 

"Urea subsidi kisaran Rp120.000 - Rp135.000 per satu zak (50 kilogram) sudah dengan ongkos bongkar. Nonsubsidi mencapai kisaran Rp350.000. NPK Phonska subsidi kisaran Rp160.000 – 170.000 nonsubsidi Rp350.000 sampai sekitar Rp450.000," ungkapnya. 

Dia menyatakan bahwa mahalnya harga pupuk nonsubsidi tak sebanding dengan pendapatan para petani. Terlebih saat ini, harga-harga kebutuhan pokok dan biaya produksi selain pupuk juga semakin mahal. Namun, banyak petani yang mengupayakan segala cara dan terpaksa membelinya. 

“Kebanyakan ngutang, cari pinjaman ke mana saja daripada dibiarkan malah tidak jadi apa-apa,” tuturnya. 

Sementara itu, perwakilan petani Syamsuding menyampaikan bahwa petani nyaris tak punya pilihan dengan situasi yang ada. Dia sendiri lebih memilih menggunakan pupuk seadanya karena tidak memiliki uang untuk membeli pupuk nonsubsidi sesuai jumlah yang dibutuhkan. 

Dia pun bersikap pasrah jika kelak hasil produksi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan serta dihargai murah.

"Mudah-mudahan masih ada harapan bisa diperbaiki, makanya kami mohon ke Pak Firli ini diusut karena saya dengar ada banyak permainan,” jelasnya. 

Baca Juga: Sebanyak 3,25 Ton Benih Kedelai Dibagikan ke Petani di Sinjai

Percaya Firli

Syarif dan petani lainnya percaya terhadap Firli lantaran reputasinya dalam menangkap koruptor. Purnawirawan polisi bintang tiga itu dinilai berani serta tidak pandang bulu dalam menjerat mafia yang merugikan masyarakat. 

"Kami dukung beliau berantas korupsi, berantas mafia pupuk,” ujarnya. 

Tidak hanya itu, petani juga bertekad mendukung Firli untuk menjadi presiden 2024 bila dirinya dinilai tetap konsisten untuk membela kepentingan dan aspirasi petani. 

"Yang dilakukan beliau mewakili keresahan rakyat di bawah,” ucapnya.



(SUR)

Berita Lainnya